Rabu, 22 Februari 2012

Makalah sejarah intelektual muslim indonesia: Syeikh Hamyah al-Fansuri

BAB I

PENDAHULUAN

Pada abad 11 H atau 17 M, di Kerajaan Aceh terdapat empat orang ulama besar silih berganti. Yang antara lain adalah: Syeikh Hamyah al-Fansuri[wafat awal abad 17] dan muridnya Syeikh Syamsuddin al-Sumatrani[wafat 1040H/1630M]. Yang mana keduanya merupakan tokoh mistik atau tasawuf yang beraliran Wihdatul Wujud [aliran wujudiyah], yang berarti manunggalnya makhluk [manusia] dengan Tuhan al-Khaliq. Faham ini berasal dari Sufi besar Syeikh Muhyiddin Ibnu Arabi yang senada dengan ajaran Hulul dari Syeikh Husein ibn Mansyur al-Hallaj.

Ulama ke tiga di Aceh adalah Syeikh Nuruddin ar-Raniri dan yang keempat adalah Syeikh Abdurrauf as-Singkili atau lebih dikenal dengan Teungku Syiah Kuala. Didalam makalah ini kami akan mencoba membasah bagaimanakah pendapat kedua ulama ini didalam tasawuf, apakah mereka sama beraliran Wihdatul wujud[aliran wujudiyah]?, yang di ajarkan oleh Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin al-Sumatrani, Yang merupakan guru dari Abdurrauf as-Singkiri. Atau sebaliknya mereka mempunyai ajaran tasawuf yang berbeda?.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Riwayat Hidup Syeikh Abdurrauf As-Singkiri.

Abdurrauf dilahirkan di Fansur, wilayah kota Singkel, sebuah kota kecil di pantai barat Aceh bagian selatan, berbatasan dengan Sumatera Utara. Mengetahui tahun kelahirannya terdapat beberapa perbedaan pendapat, ada yang menyebutkan tahun 1620, ada yang menyebutkan tahun 1001 H(1592], tapi dari data-data yang kuat dan dapat dipercaya, Abdurrauf kemungkinan besar dilahirkan tahun 1024 H [1615M]. Ayahnya adalah Syeikh Ali Fansuri, seorang ulamak di kota tersebut dan kakak dari Syeikh Hamyah Fansuri, seorang ulama dan pujangga melayu terkenal abad ke 16-17 yang mashur sebagai tokoh ajaran Wihdatul Wujud di kerajaan Aceh saat itu. [1]

Syeikh Abdurrauf As-sinkili Al-Jawi, dikenal pula dengan nama Teungku Syiah Kuala adalah seorang ulama besar dari Aceh pertama yang mempunyai jaringan lebih inten dengan ulama timur tengah pada abad ke-17. Seorang sufi yang kharismatik dengan pengaruh yang luar biasa dan dikenal sebagai waliyullah di kalangan umat Islam Aceh. Pembawa Tarekat Syatthariyah pertama kali ke Indonesia [Nusantara].

B. Pendidikan Syeikh Abdurrauf As-Singkiri.

Abdurrauf mendapatkan pendidikan agama sejak kanak-kanak dari ayahnya sendiri, kemudian belajar pada ulama-ulama lain di wilayah Aceh. Gurunya yang paling terkenal adalah Syeikh Syamsuddin Al-Sumatrani, mufti kerajaan sekaligus Perdana Menteri Kerajaan Aceh semasa kekuasaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Di bawah asuhan ulama besar dan penulis banyak kitab kuning ini, Abdurrauf berkembang menjadi ulama muda yang nantinya berhasil melampui gurunya. Meskipun dibimbing oleh ulama yang berfaham Wihdatul Wujud [seperti paham Ibnu Arabi dan al-Hallaj yang di Indonesia dikembangkan oleh Syeikh Siti Jenar, Hamzah Fansuri dan Syamsuddin]. Abdurrauf ternyata mempunyai pendapat berbeda, walaupun tidak serta merta menyerang mereka, berbeda dengan Syeikh Nuruddin ar-Raniri[penganti Syamsuddin Sumatrani sebagai mufti Kerajaan Aceh].

Setelah Syeikh Syamsuddin wafat sekitar 1630, Abdurrauf melanjutkan pelajarannya ke tanah suci Mekah. Dengan masa belajar dan peran selanjutnya. Beliau tidak langsung ke Mekah, tetapi seperti route haji saat itu , pertama kali menetap di Duha[Doha] Qatar, belajar kepada syeikh Abdul Qodir al-Mawrir untuk beberapa waktu. Beliau melanjutkan perjalanan ke Yaman dan belajar di kota Baitul faqih dan Zabid, yang saat itu telah terkenal kemajuan keilmuanya dan pusat pengetahuaan Islam di belahan selatan Jazirah Arabiah. Beliau belajar kepada keluarga Ja’man, yang terkenal sebagai ulama sufi termashur di Bait al-Faqih dan Zabid saat itu.

Dari Kawasan Yaman, Abdurrauf melanjutkan pengembaraannya ke Jeddah. Di sini beliau belajar kepada muftinya, Syekh Abdul Qadir al-Barkhali. Pengembaraan dari Singkel ini melanjutkan perjalanannya ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim di kota suci itu dan juga mengaji kepada ulama-ulama terkenal pada saat itu. Belum puas dengan mempelajari berbagai macam disiplin ilmu keislaman yang telah didapatkannya, beliau meneruskan pengembaraanya ke Madinah untuk mempelajari ilmu-ilmu batin [tasawuf] kepada syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani, yang merupakan seorang mursyid Tarekat Syatthariyah. Dari ulama-ulama inilah Abdurrauf mendapatkan ijazah dan nantinya diangkat sebagai khalifahnya untuk tarekat tersebut di tanah Jawa.[2]

C. Ajaran Tarekat Syatthariyah.

Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoxiana (Asia Tengah) dengan nama Insyiqiah sedangkan di wilayah Turki Usmani tarekat ini disebut Bistamiyah. Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid Al-Isyqi yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syatariyah tidak menganggap sebagai cabang dari persatuan sufi manapun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktek.Nisbah asy-Syatar yang berasal dari kata Syatara artinya membelah dua dan nampaknya dibelah dalam hal ini adalah kalimat tauhid yang dihayati dalam zikir nafi itsbat, La ila (nafi) dan ilaha (itsbat), juga merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya, yang kemudian membuatnya berhak mendapat perlimpahan hak dan wewenang sebagai washitah (mursyid).

Namun karena popularitas tarekat isyqiyah ini tidak berkembang di tanah kelahirannya, dan bahkan semakin memudar akibat perkembangan tarekat Naqsyabandiyah, Abdullah Asy-Syatar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Semula ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota muslim di daerah Malwa (Multan). Di India inilah ia mempeoleh popularitas dan berhasil mengembangkan tarekatnya tersebut.Tidak diketahui apakah perubahan nama dari Tarekat Isyqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India ataukah atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya (1428).[3]

Sepeninggal Abdullah Asy-Syatar, Tarekat Syatariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad Al-A’la, yang dikenal sebagai Qazan Syatiri. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghauts dari Gwalior (w. 1562), keturunan keempat dari sang pendiri dari seorang pendiriTradisi tarekat yang bernafas India dibawa ke tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibgatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihudin dan mendirikan zawiyah di Madinah. Tarekat ini kemudian disebar luaskan dan dipopulerkan dengan bahasa Arab oleh muridnya Ahmad Syimnawi. Begitu juga oleh salah seorang khilafahnya, yang kemudian memegang pucuk kepemimpinan tarekat tersebut, seorang guru asal Palestina Ahmad al-Qusyasyi. Setelah Ahmad al-Qusyasyi meninggal Ibrahim al-Kurani asal Turki tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan pengajar Tarekat Syatariyah yang terkenal di wilayah Madinah.

Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Syatariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf Singkel, telah ada seorang toko sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syatariyah yang berkembang di nusantara lewat bukunya Tuhfat Al-Mursalat Ila Ar-Ruh An-Nabi.

D. Ajaran dzikir tarekat Syattariyah

Allah tidak dapat diserupakan dengan sesuatu apapun’. Pada makrifat ini segala Di dalam naskah Syattariyah karangan Syeh Abdurrauf, disebutkan tentang adab berzikir dan bentuk-bentuk lafal zikir. Pelaksanaan zikir bagi penganut tarekat Syattariyah dibagi menjadi tiga tataran, yaitu: mubtadi, mutawasitah, dan muntahi. Mubtadi artinya ‘tingkat permulaan’; mutawasitah artinya ‘tingkat menengah’; dan muntahi artinya ‘tingkat terakhir’: Khusus mengenai tataran terakhir ini, di dalam teks dibicarakan secara panjang lebar. Dikatakan bahwa tataran ini dapat dicapai oleh seseorang yang mampu mengumpulkan dua makrifat: yaitu makrifat tanziyyah dan makrifat tasybiyyah. Makrifat tanziyyah adalah ‘suatu iktikad bahwa sesuatu dilihat dari segi batiniah/hakikatnya. Dan makrifat tasybiyyah adalah ‘mengetahui dan mengitikadkan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar’, dalam makrifat ini segala sesuatu dilihat dari segi lahiriahnya.

Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Penganut Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.Sebagaimana halnya tarekat-tarekat lain, Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Tiga kelompok yang disebut di atas, masing-masing memiliki metode berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca al-Qur’an, melaksanakan haji, dan berjihad. Kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan asketisme atau zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu mensucikan hati. Sedang kaum Syattar memperolehnya dengan bimbingan langsung dari arwah para wali. Menurut para tokohnya, dzikir kaum Syattar inilah jalan yang tercepat untuk sampai kepada Allah SWT.[4]

Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqoddimah, sebagai sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syatariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai kepada Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:

  1. Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.
  2. Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.
  3. Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.
  4. Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.
  5. Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.
  6. Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.
  7. Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”. Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:

1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:
Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.

2. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.

3. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.

4. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.

5. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.
6. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.

7. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (al-asma’ al-husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni, a) menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain; b) menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-’Alim, dan lain-lain; dan c) menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu’min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Satu hal yang harus diingat, sebagaimana juga di dalam tarekat-tarekat lainnya, adalah bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru atau syekh. Pembimbing spiritual ini adalah seseorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan semua realitas, tidak bersikap sombong, dan tidak membukakan rahasia-rahasia pandangan batinnya kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Di dalam tarekat ini, guru atau yang biasa diistilahkan dengan wasithah dianggap berhak dan sah apabila terangkum dalam mata rantai silsilah tarekat ini yang tidak putus dari Nabi Muhammad SAW lewat Ali bin Abi Thalib ra, hingga kini dan seterusnya sampai kiamat nanti; kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub; dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murbiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan). Secara terperinci, persyaratan-persyaratan penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syattariyah adalah sebagai berikut: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal; selalu berkata benar; rendah hati; sedikit makan dan sedikit bicara; setia terhadap guru atau syekhnya; kosentrasi hanya kepada Allah SWT; selalu berpuasa; memisahkan diri dari kehidupan ramai; berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih; menundukkan ego dengan penuh kerelaan kepada disiplin dan penyiksaan diri; makan dan minum dari pemberian pelayan; menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram; membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan bangga diri; mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.

E. Ajrana-Ajaran Tarekat Syattariyah

Adapun ajaran Tarekat Syatariyah yang berkembang di Nusantara yang dibawa oleh Abdul Rauf Singkel, ajarannya dapat dikelompokkan kepada tiga bagian:

1. Ketuhanan Dan Hubungannya Dengan Alam.

Dalam naskah syattariyah yang ditulis syekh al-sinkli dijelaskan bahwa Hubungan antara Tuhan dengan alam menurut pandangan Syattariyah dijelaskan sebagai berikut: pada mulanya alam ini diciptakan olch Allah dari Nur Muhammad. Sebelum segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah, ia berada di dalam ilmu Allah yang diberi nama A’yan Tsabitah. la merupakan bayang-bayang bagi Dzat Allah. Sesudah A’yan Tsabitah ini menjelma pada A’yan Khrijiyah (kenyataan Tuhan yang berada di luar), maka A’yan Kharijiyyah itu merupakan bayang-bayang bagi Yang Memiliki bayang-bayang; dan ia tiada lain daripada-Nya.

Hal di atas dapat dijelaskan dengan mengambil beberapa contoh antara lain pertama, perumpamaan orang yang bercermin, pada cermin tampak bahwa bagian sebelah kanan sesungguhnya merupakan pantulan dari bagian sebelah kiri, begitu pula sebaliknya. Dan jika orang yang bercermin itu berhadapan dengan beberapa cermin, maka di dalam cermin-cermin itu tampak ada beberapa orang, padahal itu semua tampak sebagai pantulan dari scorang saja. Perumpamaan kedua, mengenai hubungan antara tangan dengan gerak tangan, sesungguhnya gerak tangan itu bukan tangan tetapi ia tangan itu juga. Ketiga, tentang seseorang yang bernama Si Zaid yang memiliki ilmu mengenai huruf Arab. Sebelum ia menuliskan huruf tersebut pada papan tulis, huruf itu tetap (tsabit) pada ilmunya. Ilmu itu berdiri pada Dzatnya dan hapus di dalam keesaannya. Padahal hakikat huruf Arab itu bukanlah hakikat Si Zaid (meskipun huruf-huruf itu berada di dalam ilmunya): yang huruf tetaplah sebagai huruf dan Zaid tetap sebagai Zaid. Sesuai dengan dalil Fa l-kullu Huwa l-Haqq, artinya ‘Adanya segala sesuatu itu tiada lain kecuali sebagai manifestasi-Nya Yang Maha Benar’.

2. Insan Kamil atau Manusia Ideal.

Insan kamil lebih mengacu kepada hakikat manusia dan hubungannya dengan penciptanya. Manusia merupakan penampakan cinta Tuhan yang azali kepada esensinya, yang sebenarnya manusia adalah esensi sifat dan nama-Nya. Hubungan wujud Tuhan dengan insan kamil bagaikan cermin dengan bayangannya. Pembahasan tentang insan kamil meliputi masalah: pertama; masalah Hati, kedua; kejadian manusia yang dikenal dengan A’yan Khorijiyyah dan A’yan Tsabitah, ketiga; akhlak Takholli dan Tajalli.

3. Jalan Kepada Allah.

Dalam hal ini Tarekat Syatariyah menekankan pada rekonsiliasi Syari’at dan Tasawuf, yaitu memadukan Tauhid dan Dzikir. Tauhid ini memiliki empat martabat, yaitu Uluhiyah, Tauhid Sifat, Tauhid Dzat, dan Tauhid Af’al. Segala martabat itu terhimpun dalam kalimat La Ilaha Illa Allah. Oleh karena itu kita hendaknya memesrakan diri dengan La Illaha Illa Allah. Begitu juga dengan dzikir yang tentunya diperlukan sebagai jalan untuk menemukan pencerahan intuitif (kasyaf) guna bertemu dengan Tuhan. Dzikir ini dimaksudkan untuk mendapatkan al-Mawat al-Iktiariyah (kematian sukarela) yang merupakan lawan dari al-Mawat al-Tabi’i (kematian alami). Namun tentunya perlu diberikan catatan bahwa ma’rifat yang diperoleh seseorang tidaklah boleh menafikan jalan syariah.

F. Karya-Karya Syeikh Abdurrauf

Di samping sebagai ulama besar dan khalifah tarekat Syattariyah untuk nusantara, Syeikh Abdurrauf as-Singkili juga seorang ulama penulis kitab[muallif] yang produktif. Yang antara lain nama kitabnya adalah Turjumah al-Mustafid, yang merupakan kitab tafsir pertamakali di nusantara yang lengkap 30 juz. Kitab Mir’ah al-Thullab Fi Syarh,Kifayah al-Ahkam, kifayah al- Balaghah,As-Sirath al-Majid, Tabir al-Bayan dan kitab Mauizhah al-Badi dll.

G. Riwayat Hidup Syeikh Nuruddin Ar-Raniri

Nuruddin ar-Raniri dilahirkan sekitar tiga dasawarsa terakhir abad 10H atau16M di Raniri[nama sekarang Randir], wilayah surat Gujarat, pantai barat India. Ayahnya, Ali ar-Raniri, adalah imigran di Ranir yang berasal dari Tarim, Hadramaut, sedangkan ibunya tercatat orang Melayu. Pada abad 16-17M, tersebut hubungan antara Arab, Hadramaut,Gujarat[India] hingga Asia Tenggara sudah cukup lancer. Nama lengkap ar-Raniri adalah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji al-Hamid. Bahkan nama ini masih di tambahi dengan aliran yang diikutinya yakni as-Syafi’I al-Asy’ari al-Aydrudsi, yang menunjukkan ia sebagai penganut mazhab Syafi’I dalam bidang fiqih, al-Asy’ari[sunni] dalam bidang ilmu kalam dan pengikut tarekat Aydrusiyah, dalam bidang tasawuf, ar-Raniri merupakan tokoh tarekat Rifa’iyah, Aydruiyah dan Qadriyah.

H. Pendidikan Nuruddin ar-Raniri.

Nuruddin ar-Raniri pertama kali belajar kepada ulama-ulama yang ada di daerahnya sendiri. Di antara gurunya yang paling terkenal adalah Syeikh Abu Hafs Umar ibn Abdulluh Ba Sayban at-Tarimi. Kepada ulama ini ar-Raniri disamping belajar ilmu-ilmu keislaman juga belajar Tarekat Rifa’iyah, dan juga mengikuti Tarekat Aydrusiyah. Setelah belajar di India, ar-Raniri, meneruskan belajarnya ke Tarim, Hadramaut,negri asal muasal nenek moyangnya. Ar-Raniri masih keturunan al-Hamid, yang berarti keturunan Suku Quraisy. Pada tahun 1030H [1621], ar-Raniri menyelesaikan belajarnya di Tatim dan melanjutkan ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah Haji.[5]

Selanjutnya ia kembali ke Raniri[Gujarat] untuk beberapa waktu dan sempat mengajar di tanah kelahirannya itu. Selanjutnya ia merantau lagi ke wilayah timur, tanah melayu dengan sasaran Aceh dan Padang. Dalam hal ini ar-Raniri mengikuti jejak pamanya, Muhammad Jilani ibn Hasan Muhammad al-Humaidi, yang dating ke Aceh sekitar 988-991 H [1580-1583 M]. kedatangan Syeikh Nuruddin ke Aceh 1637 tampaknya ada hubunganya dengan pengankatanya sebagai syaikhul Islam atau mufti kerajaan yang baru oleh Sultan Iskandar Tsani. Dalam bidang fiqih, Syeikh Nuruddin bisa dikatakan sama keilmuannya dengan kedua ulama sebelumnya, yakni sama-sama bermadzab Syafi’i. perbedaan mereka tampak dalam bidang tasawuf, karena Syeikh Nuruddin mengikuti faham Wihdatus Syhud, manunggaling makluk dengan al-khalik bukan dalam wujud, tetapi hanya dalam kesaksian. Faham ini sama dengan pandangan kalangan sufi sunni.

Syeikh Nuruddin menentang keras ajaran Syeikh Syamsuddin Sumatrani, yang berarti juga menentang ajaran Syeikh Hamzah Fansuri, walaupun ia sendiri mengakui ketinggian ilmu Syamsuddin, Ia banyak bertentangan dengan pengikut kedua ulama itu, bahkan Syeikh Nuruddin yang didukung oleh Sultan memerintahkan kitab-kitab karangan Syeikh Syamsuddin dan Syeikh Hamzah untuk dibakar. Karena dianggap membahayakan aqidah umat. Sebagai gantinya Syeikh Nuruddin banyak menulis kitab-kitab yang dipergunakan sebagai rujukan di Kerajaan Aceh saat itu. Bahkan pengikut Syeikh Hamzah dan Syeikh Syamsuddin dikejar-kejar, dan banyak yang harus masuk penjara ataupun meninggalkan bumi Aceh dan bahkan ada pula yang sampai dihukum mati.

I. NuruddinAr-Raniry:MenyanggahFahamWujudiyyah

Nuruddin Ar-Raniry adalah seorang sufi yang menganut teori tajalli, sangat terkesan dengan kosep Ibnu ‘Arabi tentang Tuhan, alam dan manusia, terutama teori tajalli tentang penciptaan alam ini. Konsepnya masalah tersebut merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan, namun doktrin Ahlusunnah tentang ketuhanan masih tetap berperan dalam dirinya, sehingga ia tidak terbawa kepada ajaran Pantheisme.
Menurut Nuruddin, bahwa adanya Allah merupakan suatu kenyataan iman yang harus di yakini sebagai suatu kebenaran yang tidak perlu kepada bukti, karena Tuhan sebagai martabat yang paling tinggi dan suci, yang tidak dapat di dekati oleh siapapun, di kehendaki oleh Tuhan untuk dikenal dan dikeahui. Oleh karena itu, Tuhan menciptakan alam itu sebagai makhlukNya. Dia mencontohkan hadist Qudsi yang artinya ”Kami adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Kami ingin supaya dikenal. Maka Kami jadikan alam ini hingga mereka mengenal Kami”. Berdasarkan hadist tersebut, dikatakan Nuruddin Ar-Raniry bahwa alam itu adalah madah Tuhan atau tempat Tuhan menampakkan wujudnya saja, maka madah itu tidak memiliki wujudnya sendiri, dan pendapatnya ini sesuai dengan pendapat para mutakallimin dan ahli sufi yang mengatakan:”yang memiliki wujud hakiki itu hanya Tuhan, alam sebagai madah wujud Tuhan itu dalam keadaan ’adam al-mahd.
Nuruddin Ar-Raniry berpendapat bahwa wujud Allah adalah wujud yang mutlak, bukan wujud muqayyad (terbatas), bebas dari segala ikatan sejak azali sampai abadi. Wujud Allah adalah zat-Nya yang berdiri sendiri, yang Esa, tidak trdiri dari unsur –unsur, baik dalam kenyataan maupun dalam pikiran. Zat Allah tidak terbilang, tidak terbatas, tidak semua dan tidak sebagian, tidak berhimpun dan bersuku, tidak khas dan ’am, tidak jauhar (subtansi), tidak ’aradh (accident) atau tidak jisim. Zat Allah tidak ada lawan dan perumpamaan, tidak berpindah-pindah dan bertukar-tukar, azali.

Para mutakallimin berpendapat bahwa wujud itu ada dua yaitu, wujud hakiki dan wujud majazi. Alam di jadikan dari tiada, sehingga antara alam dan Tuhan itu berbeda. Hal ini berdasarkan pada dalil aqli, bahwa alam ini baharu karena selalu berubah, sedangkan Allah adalah qadim. Nuruddin sangat sependapat dengan apa yang dikatakan oleh para mutakallimin. Menurutnya, eksistensi Allah itu kenyataan iman yang harus di terima dan sudah sangat jelas, sehingga harus diyakini dan tidak perlu pembuktian lagi.

J. Karya-karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri

Di samping sebagai seorang ulama besar , Syeikh Nuruddin juga dikenal sebagai penulis kitab [Mualif] pduktif. Karya ilmiahnya sebagian besar berbentuk kitab, selain naskah berupa surat-surat jawaban atas pertanyaan dari tokoh-tokoh islam seperti Sultan Bante Abdul Mufakhir Abdul , yang antara lain Bustan as-Salatin fi Dzikr al-Awwalin wal akhirin [Taman Raja-raja] yang merupakan karya terbesar Ulama bujanggaNuruddin, As-Sirat al-Mustaqim [jalan lurus] berisi ilmu-ilmu fiqih, khususnya masalah ibadah. Kaifiyah as-Shalah[Tata Cara Shalat], Asrar al-Insan Fi Makrifat ar-Ruh wa ar-Rahman,dll.

BAB III

PENUTUP

Pada abad 11 H atau 17 M, di Kerajaan Aceh terdapat empat orang ulama besar silih berganti. Yang antara lain adalah: Syeikh Hamyah al-Fansuri[wafat awal abad 17] dan muridnya Syeikh Syamsuddin al-Sumatrani[wafat 1040H/1630M]. Yang mana keduanya merupakan tokoh mistik atau tasawuf yang beraliran Wihdatul Wujud [aliran wujudiyah], yang berarti manunggalnya makhluk [manusia] dengan Tuhan al-Khaliq. Faham ini berasal dari Sufi besar Syeikh Muhyiddin Ibnu Arabi yang senada dengan ajaran Hulul dari Syeikh Husein ibn Mansyur al-Hallaj.Ulama ke tiga di Aceh adalah Syeikh Nuruddin ar-Raniri dan yang keempat adalah Syeikh Abdurrauf as-Singkili atau lebih dikenal dengan Teungku Syiah Kuala.

Akan tetapi ternyata ajaran tasawuf mereka berbeda-beda bahkan Syeikh Nuruddin ar-Raniri menentang keras ajaran Syeikh Syamsuddin Sumatrani, yang berarti juga menentang ajaran Syeikh Hamzah Fansuri, walaupun ia sendiri mengakui ketinggian ilmu Syamsuddin, Ia banyak bertentangan dengan pengikut kedua ulama itu, bahkan Syeikh Nuruddin yang didukung oleh Sultan memerintahkan kitab-kitab karangan Syeikh Syamsuddin dan Syeikh Hamzah untuk dibakar. Karena dianggap membahayakan aqidah umat. Sebagai gantinya Syeikh Nuruddin banyak menulis kitab-kitab yang dipergunakan sebagai rujukan di Kerajaan Aceh saat itu. Bahkan pengikut Syeikh Hamzah dan Syeikh Syamsuddin dikejar-kejar, dan banyak yang harus masuk penjara ataupun meninggalkan bumi Aceh dan bahkan ada pula yang sampai dihukum mati.



[1] . Anwar, Rosihun dan Muchtar Salim, Ilmu Tasawuf, Bandung: CV. Pustaka Setia,[2004]

[2] H. M. Bibit Suprapto, Ensiklopendi Ulama Nusantara, Gelegar Media Indonesia. Hlm, 115-118.

[3] Abdullah, Hawash, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara, Surabaya: al-Ikhlas, 1980

[4] Ash-Shiddieqy, Hasbi, M,. Pengantar Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1980

[5] Azra, Azyumardi, “Jaringan Ulama ; Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII”, Penerbit Mizan, Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar